This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Friday, March 2, 2018

Cara Jitu Menjawab Pertanyaan Anak _Parenting




“APA TUH?”
Kata-kata “Apa tuh?” saat ini menjadi bunyi yang indah di telinga penulis. Celoteh itu keluar dari mulut anak usia 27 bulan setiap kali ia melihat sesuatu yang baru dan ingin diketahuinya. Dengan mata berbinar dan suara melengking khas anak kecil, ia tidak henti-hentinya bertanya, “Apa tuh?”, “Apa tuh?” tanpa mengenal lelah, bak seorang yang kehausan di padang pasir dan menemukan oase (daerah di padang pasir yang berair cukup untuk tumbuhan dan pemukiman manusia). Kadang mulut tergoda untuk berkata, “Aduh, ananda ini cerewet atau bawel banget, ya!” Untunglah kalimat tersebut tak terlontar dari mulut penulis karena penulis menyadari, ini adalah masa keemasan anak untuk belajar mengembangkan kosakata (perbendaharaan kata) dan merupakan cara dia membangun kemampuan berpikirnya, sehingga tutur kata (perkataan) dan sikap pun berubah untuk menerima pertanyaan-pertanyaan itu dengan senang hati dan berusaha menjawabnya.
Ada sebuah situasi yang menakjubkan ketika mengamati periode bertanya pada anak batita (bawah tiga tahun). Bayangkan, seorang anak yang belum bisa bicara menjadi bisa berbicara satu kata dengan terbata-bata. Tahap berikutnya adalah ketika anak berbicara dengan dua kata ajaibnya, yaitu, “Apa, tuh?” Kata tersebut seperti tombol untuk menghidupkan mesin yang baru ditekan. Dengan cepat, banyak kata yang diserap dan diucapkan kembali oleh anak, walaupun artikulasinya (pengucapannya) belum jelas. Dengan bertambahnya usia, maka artikulasinya menjadi semakin jelas dan kemampuan berbicaranya menjadi lebih kompleks.
KEMAMPUAN BAHASA ANAK
Kemampuan seorang anak dalam berbahasa menjadi sangat penting bagi perkembangan kecerdasannya. Semakin banyak kata yang dimiliki anak dan semakin rumit penggunaan kata-kata di dalam rangkaian sebuah kalimat dapat menunjukkan kecerdasan seorang anak. Tidaklah mengherankan anak yang pandai akan memperlihatkan keinginan tahunya dengan cara banyak bertanya. Walaupun tidak berarti bahwa anak yang pandai itu selalu cerewet atau sebaliknya. Keinginan tahu anak juga bisa ditampilkan dengan cara mengutak-atik benda yang ada dan lain-lain.
Kemampuan berpikir anak normal (tidak mengalami gangguan/keterlambatan perkembangan) memiliki pola yang khas. Anak mulai mempertanyakan tentang fakta-fakta melalui pertanyaan “apa”. Dengan bertambahnya usia dan kemampuan berpikirnya, anak mencoba bertanya “mengapa”(bertanya tentang sebab dan akibat) sampai pada “bagaimana” (bertanya tentang proses). Untuk pertanyaan “apa”, tidak sulit bagi ibu dan ayah menjawabnya. Tak demikian untuk menjelaskan pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”, ibu dan ayah membutuhkan alasan dalam menjawabnya. Penting untuk memberikan penjelasan secara sederhana saja namun masuk akal.
Perlu dipahami, tidak semua anak sering bertanya. Ada anak pendiam karena memang secara keturunan berasal dari ibu dan ayah yang pendiam atau meniru dari lingkungan keluarga yang juga pendiam. Pola pengasuhan pun ikut berperan sehingga anak malas bertanya dan menjadi pendiam, semisal sering menyalahkan, sering melarang. Selain itu, anak dapat menjadi pendiam karena keterlambatan perkembangan bahasa yang disebabkan oleh (1) gangguan secara fisik di alat pendengaran atau alat bicara, sehingga anak tidak mampu mendengar dan tidak bisa menirukan suara; (2) gangguan perkembangan di otak, sehingga terjadi keterbelakangan mental; dan (3) keterlambatan perkembangan akibat kurang stimulasi (perangsangan).
Apa pun pertanyaan yang diajukan anak, hendaknya mendapatkan tanggapan yang positif dari ibu dan ayah atau orang dewasa di sekitarnya. Tidak perlu marah-marah untuk menghentikannya, cukup dengan kalimat yang tegas dan sederhana seperti, “Tunggu sebentar ya, Nak, Ibu masih bicara dengan Ayah.” Atau, “Wah, Ibu kurang tahu, nanti kita tanya Ayah, ya.” Sikap yang tegas dan jelas akan membantu anak belajar mengatur dirinya, kapan harus bertanya dan kapan harus berhenti sejenak. Jika ibu dan bapak merasa kewalahan, coba alihkan pada kegiatan-kegiatan lain yang bermakna.
Kadang-kadang orangtua menjadi jengkel karena anak usia dininya banyak bertanya dengan pertanyaan yang sama dan berulang-ulang. Mengapa anak menanyakan secara berulang-ulang? Hal ini disebabkan anak belum paham tentang jawaban atas pertanyaannya. Selain juga, pertanyaan yang berulang merupakan cara anak untuk bisa mengingat tentang jawaban yang diberikan. Contoh, anak bertanya, “Apa tuh?” sambil menunjuk ke arah daun-daunan. Orangtua menjawab, “Itu daun, Nak.” Anak pun bertanya lagi “Apa, tuh?” sambil tetap menunjuk pada daun-daunan yang sama. Orangtua harus menjawab dengan jawaban yang lebih lengkap seperti, “Oh, itu daun sirih. Daunnya lebar, ya. Wah, itu ada yang kuning, itu daun sirih yang layu.” sambil kita menunjukkan daun sirih tersebut. Berikan kesempatan pada anak untuk menyentuh dan mencium daun sirih itu sehingga anak menjadi tahu dan yakin akan daun sirih tersebut. Setelah anak bertanya, kita yang kembali bertanya kepadanya, “Nak, ini buah apa?” sambil menunjuk gambar buah jeruk. Jika anak belum bisa menjawab secara utuh, bisa kita pancing dengan, “Ini gambar buah je… ruk.”
Ada juga anak-anak yang bertanya berulang kali dengan pertanyaan yang sama untuk mendapatkan perhatian ibu dan bapak. Oleh karena itu, jika anak bertanya, ibu dan bapak harus menjawab dengan penuh perhatian. Berikan waktu yang cukup untuk berbicara dan bermain dengan anak, serta gunakan bahasa tubuh yang benar. Jadi, ketika anak berbicara dengan kita, coba perhatikan wajahnya, berjongkoklah agar pandangan anak sejajar dengan pandangan kita, dengarkan anak berbicara sampai selesai baru kemudian menjawabnya dengan santun. Tidak perlu tergesa-gesa menyimpulkan atau menolak pertanyaan anak.
Anak pun dapat bertanya dan bertanya lagi ketika ia menghadapi situasi yang serupa dengan yang pernah dialaminya. Dalam kondisi seperti ini, ibu dan bapak harus dapat memberikan penjelasan yang lebih lengkap.
0-6 bulan Menangis dengan berbagai cara untuk menunjukkan bahwa dia mengompol, lapar, kesepian, kesakitan.
Bersuara untuk menyampaikan kesenangan atau ketidaksenangan.
Bergumam.
Mengetahui dan melihat ke arah suara atau bunyi-bunyi yang dikenalnya.
PERKEMBANGAN KEMAMPUAN BAHASA ANAK
Sebelum ibu dan bapak menjawab pertanyaan yang muncul dari anak, ada baiknya jika ibu dan bapak memahami ciri-ciri dari kemampuan bahasa anak. Dengan demikian diharapkan ibu dan bapak tidak akan salah dalam menjawab pertanyaan anak.
USIA
KEMAMPUAN BAHASA
12 Cara Jitu Menjawab Pertanyaan Anak
6-12 bulan
Dapat melambaikan tangan.
Menoleh ketika namanya dipanggil.
Paham nama-nama dari benda-benda yang dikenalinya.
Senang melihat buku bergambar.
Memerhatikan jika ada orang yang bercakap-cakap.
Menyebutkan satu kata.
Mengoceh seakan-akan sedang berbicara.
Mengatakan “ma… ma” atau “da… da”.
Mengidentifikasi anggota keluarga dan benda-benda yang dikenalnya.
Menunjuk beberapa anggota tubuhnya seperti hidung, telinga.
Mengikuti satu perintah sederhana.
Mengucapkan dua kata atau lebih.
Menirukan bunyi-bunyian yang dikenalnya, seperti bunyi mobil, suara kucing.
Mengulangi beberapa kata.
Memerhatikan orang yang mengajaknya bicara.
Mengatakan “dadah” atau “ekom” (untuk assalamualaikum) jika diingatkan.
Menggunakan bahasa ekspresi “oh… oh”.
Meminta sesuatu sambil menunjuk pada bendanya.
Mengidentifikasi benda yang ada di buku bergambar.
Bisa mengatakan sekitar 50 kata, tapi bisa memahami lebih dari itu.
USIA
KEMAMPUAN BAHASA
Cara Jitu Menjawab Pertanyaan Anak 13
Menirukan satu kata yang diucapkan oleh orang lain.
Berbicara sendiri.
Menyebutkan nama dari mainan dan benda-benda yang dikenalnya.
Menggunakan dua atau tiga kata dalam kalimatnya “mama minum” “bapak pergi kantor”.
Bersenandung atau mencoba sebuah lagu sederhana.
Mendengarkan lagu anak-anak.
Menunjuk anggota tubuh yang diminta seperti, “Mana mata?” “Mana hidung?”, “Mana telinga?”
Menggunakan kata “daaah”, “minta”, “terima kasih”.
Bisa mengidentifikasi 10 gambar yang ada di buku jika disebutkan.
Menggunakan kalimat sederhana.
Merespons jika namanya dipanggil.
Merespons pada petunjuk yang sederhana.
USIA
KEMAMPUAN BAHASA
14 Cara Jitu Menjawab Pertanyaan Anak
Menikmati cerita dan lagu yang sederhana.
Menggunakan dua atau tiga kata dalam kalimatnya.
Menikmati melihat-lihat buku.
Menunjuk pada mata, telinga dan hidung yang disebutkan.
Mengulangi kata-kata yang diucapkan orang lain.
Kosakatanya sudah bertambah menjadi 500 kata.
75—80% cara berbicaranya sudah jelas dan bisa dimengerti.
Bisa mengatakan nama depan dan nama lengkapnya.
Memahami kata-kata yang menunjukkan posisi seperti di atas, di bawah, pada, dan di dalam.
Memahami sekarang, sebentar lagi, dan nanti.
Bertanya dengan pertanyaan siapa, apa, di mana, dan mengapa.
Bicaranya sudah menggunakan 3 sampai 5 kata dengan lengkap.
Kadang bicaranya terlalu cepat atau gagap.
Senang mengulang-ulang kata dan bunyi.
Menyimak cerita pendek.
Menyukai cerita yang sudah dikenalnya dan diceritakan dengan sama.
Menikmati dongeng.
USIA
KEMAMPUAN BAHASA
Cara Jitu Menjawab Pertanyaan Anak 15
Bisa menyanyi.
Mengenali suara-suara yang ada sehari-hari.
Bisa mengidentifikasi warna primer seperti merah, biru, kuning, hijau.
Mengenali beberapa huruf yang diajarkan dan mungkin bisa menulis namanya sendiri.
Mengenali kata-kata yang tidak asing dari buku sederhana atau simbol-simbol (stop, M untuk Mc Donald).
Berbicara dengan kalimat yang cukup kompleks.
Menikmati lagu sederhana.
Belajar tentang nama, alamat, dan nomor telepon.
Bertanya dan menjawab pertanyaan siapa, apa, mengapa, di.mana dan jika.
Menyebutkan enam hingga delapan warna dan tiga bentuk.
Mengikuti dua perintah yang tidak berhubungan, seperti “Minum susumu kemudian pakai sepatu sebelum berangkat sekolah.”
Senang bicara dan mengelaborasi (membuat) kalimat.
Senang menggunakan kata-kata yang mengejutkan orang lain.
Melucu yang tidak masuk akal orang dewasa.
USIA
KEMAMPUAN BAHASA
16 Cara Jitu Menjawab Pertanyaan Anak
Berbicara dengan kata-kata dan tata bahasa yang benar.
Bisa mengekspresikan dirinya melalui bermain peran.
Menurut (?) namanya sendiri, huruf, dan angka.
Membaca kata-kata yang sederhana.
TIP MENGEMBANGKAN KECERDASAN BAHASA ANAK
Untuk mengembangkan kecerdasan anak melalui bahasa, ada beberapa hal yang perlu dilakukan ibu dan ba[ak, di antaranya:
1. Memberikan respons/tanggapan secepat mungkin. Ketika anak bertanya kepada kita, segeralah menjawabnya. Jangan menyia-nyiakan rasa ingin tahu dan kesempatan emas anak untuk belajar sesuatu.
2. Menyediakan jawaban yang sesuai dengan kemampuan berpikir anak.
3. Berikan pertanyaan yang terkait dengan apa yang sedang anak tanyakan atau perhatikan. Siapkan pertanyaan pancingan agar anak mau menjawab secara lebih lengkap.
4. Berikan jawaban sebatas yang ditanyakan. Jawaban yang panjang lebar dapat membuat anak bingung.
5. Lakukan kontak mata ketika berbicara dengan anak. Usahakan untuk menyesuaikan dengan tingkat
USIA
KEMAMPUAN BAHASA
Cara Jitu Menjawab Pertanyaan Anak 17
penglihatan anak. Bila perlu, berjongkoklah ketika berbicara dengan anak, sehingga ia bisa melihat mata kita dan sebaliknya.
6. Jika orangtua tidak bisa menjawab, coba cari jawaban dengan berusaha bersama anak, sehingga anak juga belajar bagaimana mencari sumber jawaban. Jangan asal menjawab karena anak-anak dapat salah mengerti
18 Cara Jitu Menjawab Pertanyaan Anak
ANEKA PERTANYAAN ANAK
DAN JAWABANNYA
Kadang tidak disadari kita memberikan jawaban atas pertanyaan anak dengan jawaban yang terlalu sulit atau abstrak, sehingga anak bingung atau tidak paham akan jawaban kita. Perlu diingat, anak usia dini memiliki cara berpikir yang masih sangat konkret. Jadi, setiap jawaban yang ibu dan bapak berikan hendaknya bersifat konkret dan sederhana saja. Berikut ini beberapa pertanyaan yang sering muncul pada anak-anak usia dini dan contoh jawabannya.
BERKAITAN DENGAN SEKSUALITAS
1. ”Mengapa tempat pipisku beda dengan punya Kakak?”
”Iya, tempat pipismu berbeda dengan Kakak, karena kamu adalah laki-laki sama dengan Ayah. Kakakmu adalah perempuan sama dengan Ibu. Tempat pipismu namanya alat kelamin.”
Cara Jitu Menjawab Pertanyaan Anak 19
2. ”Kalau habis pipis, mengapa harus disiram?”
”Untuk menjaga kebersihan. Jika kamu kesulitan, minta bantuan sama Ibu atau Ayah untuk disiram dengan air. Kalau membersihkan alat kelamin harus dari arah depan ke arah belakang, dari tempat pipis ke tempat buang air besar. Jangan terbalik ya, Nak. Setelah itu, keringkan dengan lap atau handukmu, lalu pakai celanamu kembali.”
3. ”Kenapa alat kelaminku tidak boleh dipegang-pegang oleh orang lain?”
”Alat kelaminmu adalah bagian tubuhmu yang khusus, jadi tidak boleh dipegang oleh orang sembarangan. Kalau orang lain memegang-megang alat kelaminmu, itu namanya tidak sopan. Kalau ada orang yang mau memegang alat kelaminmu, bilang, ’Tidak boleh’, ya, Nak. Beri tahu Ibu dan Bapak jika ada orang yang memegang-megang alat kelaminmu.”
4. “Ibu, adik keluarnya dari mana?”
“Adik keluar dari perut Ibu, dengan dibantu oleh dokter atau ibu bidan. Itu namanya melahirkan”.
5. “Kenapa aku enggak boleh pakai lipstik?” (anak laki-laki)
“Karena kamu laki-laki. Hanya perempuan dewasa yang boleh pakai lipstik.”
TENTANG TUHAN DAN HAL-HAL GAIB
1. ”Ayah, Tuhan itu laki-laki atau perempuan?”
”Tuhan itu bukan laki-laki maupun perempuan, karena Tuhan bukan seperti manusia.”
2. “Tuhan tinggalnya di mana, Bunda?”
20 Cara Jitu Menjawab Pertanyaan Anak
Cara Jitu Menjawab Pertanyaan Anak 21
“Tuhan tinggal di dalam hati kita. Tuhan selalu bersama kita dan melindungi kita.”
3. “Surga itu apa, Abi?”
“Surga adalah tempat yang sangat menyenangkan bagi anak yang baik dan taat pada orangtua.”
4. ”Orang baik itu siapa saja, Ibu?”
”Orang yang sayang pada ibu dan bapaknya dan saudara-saudaranya. Orang yang tidak pernah berbohong dan tidak suka bertengkar dengan teman di sekolah.
5. “Mama ada pocong di situ?”
“Pocong itu tidak ada, Nak. Itu hanya khayalan saja”.
6. “Kalau setan ada?”
“Ada, setan ada di mana-mana. Kita tidak bisa melihatnya, karena Tuhan menciptakan setan berbeda bentuknya dengan manusia. Jadi, kita tidak perlu takut pada setan.”
7. ”Ibu, mengapa eyang kakung meninggal?”
”Kita diciptakan oleh Tuhan dan nanti Tuhan pula yang memanggil kita kembali pada Tuhan.”
8. ”Meninggal itu apa sih, Mama?”
”Pergi meninggalkan dunia karena dipanggil Tuhan untuk bertemu.”
9. ”Kalau sudah meninggal jadi hantu?”
”Meninggal itu karena dipanggil Tuhan, tidak akan menjadi hantu.”
BERKAITAN DENGAN FENOMENA ALAM
1. “Kenapa bisa banjir, Ma?”
”Karena selokan dan sungai tersumbat oleh sampah.
22 Cara Jitu Menjawab Pertanyaan Anak
Jadi, airnya tidak bisa mengalir, akibatnya naik dan tumpah ke jalan.”
”Hujannya turun terus-menerus dan sangat deras, sehingga airnya tidak bisa ditampung lagi oleh sungai sampai meluap. Jadi banjir deh.”
(Orangtua dapat melakukan uji coba di tempat cuci piring yang diberi sumbatan sehingga air akan meluap.)
2. ”Bunda, rumah Nenek rusak karena gempa ya, kok bisa begitu?”
”Karena gempanya sangat kuat sehingga menimbulkan guncangan yang kuat. Rumah-rumah jadi roboh, pohon-pohonan dan tiang listrik tumbang.”
(Orangtua dapat melakukan percobaan dengan menggunakan meja dan meletakkan berbagai benda di atas meja, lalu goyang-goyang yang keras sehingga benda-benda akan bergoyang dan berpindah tempat, bahkan ada yang jatuh.)
Cara Jitu Menjawab Pertanyaan Anak 23

Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia DiniDirektorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan InformalKementerian Pendidikan NasionalTahun 2011
Milik Negara
Tidak Diperjualbelikan

Dra. Rahmitha, S.Psi

Sumber Bacaan :
Family Education department, Essential Parenting Tips, • Singapore: Ministry of Community Development and Sports. 2001
Gestwicki, Carol. Developmentally Appropriate Practice • Curriculum and Dvelopment in Early Education. Third Edition. Canada: Thomson Delmar Learning. 2007
http://www.poemhunter.com/quotations/childhood/• page-5/
http://www.extension.iastate.edu/publications/pm1529f.• pdf
Panduan Menjawab Pertanyaan Anak. Jakarta: PT. • Penerbitan Sarana Bobo, 2007
Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan Nasional
Tahun 2011

Bermain Bagi Anak Usia Dini



Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan Nasional
Tahun 2011

S.R. Retno Pudjiati, M.Si
Milik Negara
Tidak Diperjualbelikandan Alat Permainan yang Sesuai Usia Anak

Raya, bayi perempuan kecil berumur 3 bulan, sedang mengeluarkan bermacam-macam suara dari mulutnya sambil memandangi tangannya. Sesekali tangannya dimasukkan ke dalam mulut, diselingi tawa kecilnya. Di dekatnya, Rafi, kakak laki-laki yang berusia 3 tahun, bermain mobil-mobilan dengan menggunakan kulit jeruk bali. Sementara di luar rumah ada 5 anak perempuan dan laki-laki sedang bermain petak umpet sambil tertawa-tawa.
DUNIA ANAK ADALAH BERMAIN
Tahukah Ibu dan Ayah bahwa anak-anak di seluruh dunia melakukan suatu kegiatan yang disebut bermain? Tidak peduli mereka ada di Nigeria, Papua Nugini, Arab, Amerika, Eskimo, Nepal, Medan, Palangkaraya, Timika atau di mana pun. Ananda bisa bermain sendirian maupun dengan teman dan orang dewasa. Ananda dapat bermain dengan menggunakan alat permainan yang memang sengaja dibuat untuk anak-anak dan sudah digunakan di seluruh dunia sejak lama. Contohnya, boneka, bola, mainan yang merupakan tiruan dari alat-alat yang ada dalam kehidupan sehari-hari (seperti, alat masak-masakan, alat pertukangan, alat dokter-dokteran, mobi-mobilan), dan masih banyak lagi. Ananda juga dapat bermain dengan menggunakan apa pun benda yang mereka temukan, seperti kayu, batu, atau daun, menjadi mainan yang mereka inginkan. Ananda bermain seperti yang dicontohkan oleh orang dewasa atau anak-anak lain yang lebih tua. Ananda bermain dengan suara-suara yang mereka keluarkan atau percakapan yang mereka lakukan.
Pada dasarnya, semua orang bermain, dari bayi hingga remaja, bahkan sampai dewasa. Hanya saja, dibandingkan remaja dan orang dewasa, anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bermain. Hal ini didukung oleh Deklarasi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pasal 7:3 yang berbunyi, ¡§Anak perlu mendapatkan kesempatan penuh untuk bermain dan berekreasi, sama seperti kesempatan untuk mendapatkan pendidikan; masyarakat dan pemerintah harus berperan aktif mendukung pemenuhan hak tersebut.¡¨ Nah, karena anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bermain, maka tidak salah kalau ada ahli yang mengatakan bahwa bermain adalah ¡§pekerjaan¡¨ anak; melalui bermain, anak akan tumbuh dan berkembang.
Sejak bayi, ananda sudah bermain, karena bermain adalah suatu kegiatan yang secara alamiah telah dimiliki oleh setiap anak. Tidak seperti kegiatan berjalan, berbicara, menulis, membaca atau berhitung, yang membutuhkan bantuan dari orang lain untuk mengajarkannya, maka untuk bisa bermain, anak-anak tidak memerlukan orang lain untuk memulai mengajarinya bermain. Sebenarnya, apa sih bermain itu? Secara umum orang berpendapat, bermain adalah kegiatan yang serta-merta atau tanpa direncanakan lebih dahulu, tidak mempunyai tujuan tertentu, dan lebih didorong oleh kebutuhan untuk memperoleh kesenangan. Jadi, bisa dibilang, bermain adalah kegiatan yang menyenangkan bagi anak dan anak-anak kita melakukannya setiap hari dengan senang hati. Dalam keadaan senang dan santai, tanpa disadari ananda akan lebih mudah mempelajari banyak hal. Semua yang dilihat dan didengar oleh ananda akan dengan mudah diiingat karena lebih berkesan, sehingga sebenarnya amat banyak hal yang dipelajari oleh anak-anak kita saat mereka sedang
Tentunya, kegiatan bermain anak berbeda-beda saat mereka masih bayi dibandingkan saat berusia 2 tahun. Ketika bayi, kegiatan bermain lebih banyak menggunakan anggota tubuhnya sendiri, kurang banyak menggunakan alat permainan, dan biasanya dilakukan sendirian atau dengan orangtua/orang dewasa lain. Setelah berusia sekitar 6 bulan, ananda mulai senang menggunakan alat permainan yang diberikan oleh orangtua. Sampai usia sekitar 2 tahun, biasanya ananda lebih banyak bermain di rumah dan lebih kerap bermain sendiri atau bersama dengan saudara kandung. Setelah masuk usia prasekolah (PAUD), barulah ananda lebih banyak bermain dengan teman sebaya.
MANFAAT BERMAIN
Dengan bermain, anak akan tumbuh dan berkembang. Ada 5 aspek perkembangan yang akan dirangsang dengan bermain, yaitu:
1. Aspek Fisik-Motorik
Yang dimaksud aspek ¡§fisik-motorik¡¨ adalah kemampuan gerak, baik gerakan kasar maupun gerakan halus. Dengan bermain, ananda diharapkan dapat mengontrol, baik gerakan kasar maupun gerakan halusnya.
ĉ Beberapa kegiatan bermain yang dapat dilakukan untuk merangsang gerakan kasar adalah:
a. Gerakan-gerakan menendang atau mengisap jari jemari pada bayi.
b. Berjalan pada satu garis lurus atau mengangkat satu kaki untuk keseimbangan.
c. Dudukkan ananda di pangkuan, pegang di bawah ketiaknya, gerakkan kaki Ibu/Ayah, dan buat suara seolah-olah ananda naik mobil/motor/kuda.
d. Menangkap atau menendang bola, dan masih banyak
10 Bermain Bagi AUD dan Alat Permainan yang Sesuai Bagi Usia Anak
Bermain Bagi AUD dan Alat Permainan yang Sesuai Bagi Usia Anak 11
lagi.
ĉ Beberapa kegiatan bermain yang dapat dilakukan untuk mengontrol gerakan halus adalah:
a. Menggenggam dan menggerak-gerakkan mainan pada bayi.
b. Bermain dengan tanah liat, ubleg (?), play dough.
Kegiatan ini baik untuk melatih keterampilan mengontrol jari-jemari. Sediakan adonan sagu dicampur air, berikan pewarna makanan atau menggunakan saus tomat, kemudian minta ananda mengambil adonan tersebut ke sebuah kertas dan membuat pola atau bentuk sesuai kehendak mereka.
c. Mengambil benda-benda berukuran kecil.
Kumpulkan beberapa benda kecil seperti biskuit, permen, batu kerikil, kulit kerang, dan lain-lain, lalu minta ananda mengambil benda-benda tersebut dan menaruhnya ke dalam botol. Kegiatan ini baik untuk melatih kemampuan gerakan halus serta menyatukan gerak dan irama antara mata dan tangan.
2. Aspek Sosial
Melalui bermain, ananda belajar mengenal jenis kelamin mereka, bagaimana membina hubungan dengan orang lain, mengerti aturan, bisa berbagi dengan orang lain, menunggu giliran, dan mampu memahami orang lain.
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengembangkan aspek bahasa adalah:
a. Ajak ananda bermain teka teki mengenai nama tetangga
12 Bermain Bagi AUD dan Alat Permainan yang Sesuai Bagi Usia Anak
di sebelah kiri, kanan, dan depan rumah. Misalnya, ¡§Siapakah nama ayah yang rumahnya ada di depan rumah kita?¡¨
b. Saat ananda bermain dengan teman-temannya, ajarkan agar ia mau berbagi mainan dengan teman atau menunggu giliran.
3. Aspek Emosi
Melalui kegiatan bermain, ananda dapat melatih kesabaran, belajar menerima kekalahan, kecewa, mengatur emosi marah, tidak mudah menyerah, dan dapat mengemukakan perasaan mereka.
Beberapa kegiatan bermain yang dapat dilakukan untuk
Bermain Bagi AUD dan Alat Permainan yang Sesuai Bagi Usia Anak 13
merangsang perkembangan emosi adalah:
a. Saat bermain bersama teman, lalu mereka rebutan mainan, maka ananda akan belajar mengatur emosi mereka.
b. Anak bermain peran sebagai guru, dapat melatih rasa percaya diri.
4. Aspek Bahasa
Saat bermain, ananda akan mendengar dan berbicara. Hal ini akan melatihnya untuk memahami orang lain dan menggunakan bahasa untuk mengungkapkan pikirannya. Selain itu, melalui bahasa, ananda juga belajar untuk menjalin hubungan dengan orang lain dan menambah penguasaan kata.
14 Bermain Bagi AUD dan Alat Permainan yang Sesuai Bagi Usia Anak
Beberapa kegiatan bermain yang dapat dilakukan untuk mengembangkan aspek bahasa adalah:
a. Membacakan buku cerita.
b. Menyanyi lagu-lagu sederhana seperti ¡§Balonku¡¨.
c. Mengajak ananda berbicara dan bermain cilukba pada bayi.
d. Bermain tebak kata. Contoh, ¡§Benda ini dipakai untuk makan, bentuknya biasanya bulat, apakah itu?¡¨
5. Aspek Kecerdasan
Melalui bermain ananda belajar bagaimana menyelesaikan masalah, meningkatkan daya ingat, memusatkan perhatian pada suatu kegiatan, dan lain-lain.
Beberapa kegiatan bermain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan aspek kecerdasan adalah:
Bermain Bagi AUD dan Alat Permainan yang Sesuai Bagi Usia Anak 15
a. Ajak ananda menyanyikan lagu ¡§Satu-satu aku sayang ibu¡¨ hingga selesai. Saat menyanyi dan mengucapkan satu-satu, tunjukkan angka satu dengan jari, begitu seterusnya hingga tiga.
b. Ajak ananda menebak nama-nama anggota wajah, lalu beri pujian bila ia berhasil menunjukkan/menyebutkan. Misal, ¡§Ayo Nak, apa namanya ini?¡¨ sambil Ibu/Ayah menunjuk hidung atau mata, dan lainnya.
c. Bermain jual beli. Ini adalah awal ananda mengenal angka.
16 Bermain Bagi AUD dan Alat Permainan yang Sesuai Bagi Usia Anak
BELAJAR MELALUI BERMAIN
Tidak seperti anggapan salah yang sering dianut oleh banyak orang bahwa bermain adalah suatu kegiatan membuang-buang waktu dan dapat membuat anak menjadi bodoh. Ternyata, bermain adalah kegiatan yang menyenangkan dan dapat menjadi sarana belajar yang baik bagi anak, karena dilakukan tanpa tekanan dan paksaan. Penting untuk diingat, yang paling utama adalah kegiatan bermainnya itu sendiri, bukan belajarnya. Seperti sudah dijelaskan di atas, dunia anak adalah bermain, bahkan bermain adalah ¡§pekerjaan¡¨ anak. Melalui kegiatan bermain, ananda belajar mengembangkan berbagai kemampuan yang dimilikinya dengan menyenangkan dan bahagia. Perlu dipahami, kemampuan anak usia dini untuk berkonsentrasi masih pendek, penguasaan bahasanya juga terbatas, dan anak pun masih mudah bosan. Oleh karena itu, anak usia dini belum siap untuk mengikuti kegiatan belajar secara formal di bangku sekolah. Bila ananda dipaksa untuk mengikuti kegiatan formal di sekolah, maka ia akan merasa tertekan, sehingga dapat mengalami gangguan belajar dan gangguan perilaku.
Jadi, Ibu dan Ayah, pada saat bermain, ananda juga belajar. Melalui bermain, ananda belajar memahami bagaimana suatu
Bermain Bagi AUD dan Alat Permainan yang Sesuai Bagi Usia Anak 17
benda bekerja, misalnya, bagaimana kalau bangku didorong akan berbunyi, air akan menyebabkan basah, sendok selain digunakan untuk makan bisa juga digunakan sebagai telepon saat bermain pura-pura, dan sebagainya. Ananda juga akan belajar bagaimana caranya mengekspresikan diri dengan berbagai macam cara, seperti, bagaimana caranya bicara saat marah, kesal, tidak suka, dan lainnya. Bukan cuma itu. Pada saat bermain, ananda pun belajar mengenal dan menggunakan berbagai macam kata baru, terutama ketika ananda bermain pura-pura, seperti bermain jual-beli, tamu-tamuan, sekolah-sekolahan, dan lainnya. Kegiatan bermain juga dapat memperkuat dan mengendalikan otot-otot tubuh, serta belajar bekerja sama ketika ananda bermain dengan teman, semisal berjalan di titian, mengendarai sepeda, melempar dan menendang bola. Bahkan, ketika ananda menemui masalah dalam bermain, ananda diajak untuk berpikir kreatif dan menggunakan kemampuan memecahkan masalah. Contoh, bagaimana menghadapi teman yang tidak mau bergantian alat bermain, bergantian menggunakan alat permainan yang sama, dan sebagainya.
Yang penting diperhatikan oleh Ibu dan Ayah, dalam bermain, ada beberapa hal-hal yang harus dihindarkan, yaitu:
1. Pemaksaan oleh orangtua, karena akan mengubah suasana bermain menjadi bekerja.
2. Mengeritik atau mencemooh, sebab masih wajar kalau sesekali anak melakukan kesalahan;
3. Sikap mengatur apa yang harus dilakukan oleh anak sehingga anak tidak mempunyai kesempatan untuk berkreasi, berimajinasi, berani mencoba hal-hal baru.
18 Bermain Bagi AUD dan Alat Permainan yang Sesuai Bagi Usia Anak
ORANGTUA IKUT TERLIBAT
Ibu dan Ayah diharapkan ikut bermain bersama anak. Soalnya, keterlibatan Ibu dan Ayah dalam kegiatan bermain dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi ananda, yang pada akhirnya akan membuat hubungan anak dan orangtua menjadi lebih dekat. Ketika Ayah dan Ibu bermain dengan ananda, orangtua sekali-sekali boleh mengarahkan, tetapi anak tetap yang paling aktif dalam bermain. Misalnya, ketika bermain masak-masakan, biarkan ananda yang menentukan bahan-bahan yang dipakai, bagaimana akan memasak, dan seterusnya. Namun Ayah dan Ibu bisa ikut memesan masakan yang disukai, ¡§Ibu pesan gado-gado ya¡K tapi cabe-nya satu saja ya.¡¨
Orangtua seharusnya lebih peka dan tanggap akan kebutuhan anak waktu bermain, dan selalu berikan dukungan sehingga anak tetap semangat bermain. Jika ananda terlihat mengalami kesulitan saat memindahkan mainan, misalnya, tanyakan, apakah ia ingin dibantu namun tidak secara langsung mengulurkan bantuan, ¡§Sini, Nak, Ayah bantu!¡¨, melainkan katakana, ¡§Hmm¡K kayaknya berat, ya? Boleh Ayah tolong?¡¨ Bisa juga dengan menyemangatinya, ¡§Coba Andi dorong pelan-pelan pakai kedua tangan¡K ya, begitu¡K
Bermain Bagi AUD dan Alat Permainan yang Sesuai Bagi Usia Anak 19
pintar lo anak Ibu.¡¨ Jadi, jangan langsung membantu agar anak tetap bersemangat dalam bermain.
Berikut ini beberapa contoh kegiatan bermain yang dapat dilakukan oleh anak bersama orangtua, sesuai dengan usia anak.
1. Bayi dan Anak Bawah Dua Tahun (BaDuTa)
a. Bermain yang melibatkan gerakan pancaindra.
Bermain dimulai secara tidak sengaja, bayi melakukan gerakan-gerakan yang ternyata membuat dia senang, sehingga selalu diulang. Contoh kegiatan bermain ini adalah mengamati dan menggerak-gerakkan tangan, mengemut ibu jari, menyembur-nyemburkan ludah.
b. Bermain dengan benda.
Semua mainan yang dapat merangsang kelima indra (berwarna terang, berbunyi, permukaan kasar-halus, beraroma, dapat dirasakan). Mainan hendaknya cukup besar untuk bisa digenggam oleh anak, lembut, dan tidak tajam. Contoh, mainan yang dapat diurutkan dari yang kecil ke besar; mainan untuk masak-masakan, untuk minum; bermain air sabun; bermain pasir; mobil-mobila; buku bergambar tanpa tulisan; dan sebagainya.
c. Bermain pura-pura (simbolik).
Menggunakan alat-alat permainan atau benda-benda yang ada di sekitar seolah-olah sebagai suatu benda. Contoh, menggunakan pisang/bekas gelas plastik air mineral/kaleng susu sebagai telepon, menggunakan kotak-kotak sabun sebagai mobil, menggunakan panci bekas dan sendok sebagai alat musik, serta lainnya.
2. Anak Dua Tahun
Anak usia dua tahun mulai mengalami perkembangan dalam gerakan kasar dan halus, juga mulai bisa mengontrol gerakan tubuh, sehingga anak bangga dengan keberhasilan dalam kegiatan fisik mereka. Karena kemampuan bahasa mulai berkembang, anak juga mulai menggunakan bahasa. Beberapa contoh kegiatan bermainnya ialah bermain palang (terbuat dari besi atau kayu) sejajar untuk bergelantungan; naik-turun tangga; bermain gerobak untuk ditarik; perosotan; bermain di terowongan untuk merangkak; bermainan dengan benda yang dapat dikendarai; bermain kepingan gambar (puzzle) sederhana dengan potongan besar; manik-manik untuk dironce; tanah liat, pasir, adonan sagu/terigu (penting untuk mempertajam indra, bukan untuk menghasilkan suatu bentuk); dan sebagainya.
3. Anak Tiga Tahun
Anak usia tiga tahun sangat imajinatif (senang menciptakan tokoh-tokoh atau kegiatan yang bersifat khayalan) dan mulai senang meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa, terutama kedua orangtuanya. Kemampuan ananda untuk berteman juga semakin meningkat, sehingga mereka sudah lebih baik dalam kegiatan berbagi, menunggu giliran, dan bekerja sama dengan orang lain. Beberapa contoh kegiatan bermainnya adalah permainan yang menggambarkan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari seperti bermain truk/mobil-mobilan, pasar-pasaran, boneka, balok, tanah/pasir, spidol, pinsil gambar, dan krayon.
4. Anak Empat Tahun
Bermain Bagi AUD dan Alat Permainan yang Sesuai Bagi Usia Anak 21
Anak usia ini memiliki keseimbangan tubuh yang makin baik, gerakan halus lebih terampil, dan mulai memiliki perencanaan tetapi masih suka berubah-ubah. Contoh kegiatan bermainnya adalah berrmain sepeda, alat pertukangan, balok-balok yang lebih kecil dengan bermacam bentuk, bola sepak, membaca buku (dengan gambar dan tulisan), dan sebagainya.
5. Anak Lima Tahun
Anak sudah menunjukkan tanggung jawab untuk mengurus diri sendiri dan kepunyaannya. Biasanya mereka juga membutuhkan pengarahan dari orang dewasa. Contoh kegiatan bermainnya, antara lain: bermain menggunakan peralatan seni, seperti cat, sikat, krayon, spidol, gunting, lem, tanah liat, dll.; peralatan pertukangan atau masak-masakan, peralatan rumah tangga; alat permainan (ular tangga, halma, monopoli, dll).
Ibu dan Ayah, ingatlah, bermain merupakan cara anak belajar, tapi tetap yang paling utama adalah bersenang-senang. Melalui bermain, Ibu dan Ayah dapat memberikan pengalaman belajar yang bermacam-macam kepada ananda. Nah, supaya pengalaman bermain ananda lebih banyak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh Ibu dan Ayah, yaitu:
1. Waktu untuk bermain.
Ibu dan Ayah hendaknya dengan sengaja menyempatkan diri dan menyediakan waktu untuk bermain dengan anak. Kegiatan bermain dilakukan pada saat ananda memang menginginkannya dan tidak pada jam-jam anak biasanya tidur. Misalnya, sesudah mandi dan makan pagi atau sore.
2. Ruangan bermain.
Bagaimana Ayah dan Ibu mengatur ruangan dan ruangan seperti apa yang tersedia, akan memberi pengaruh kepada cara bermain anak. Jangan menaruh hiasan kecil-kecil dan mudah pecah di tempat yang mudah diambil oleh anak.
Kalau ruangan yang tersedia untuk anak bermain adalah ruang tamu, biasanya anak bermain dengan permainan yang tidak memerlukan banyak kegiatan berlari.
3. Bahan dasar (utama) pembuatan mainan.
Saat ini kebanyakan mainan terbuat dari plastik, berhati-hatilah dalam memilih mainan yang cocok untuk anak kita. Bila memungkinkan Ayah dan Ibu dapat menggunakan mainan dari bahan-bahan yang tersedia di alam, seperti menggunakan wortel bagi bayi yang baru belajar menggigit.
4. Pengalaman sebelumnya.
Pengalaman Ibu dan Ayah bermain ketika kecil akan memengaruhi Ibu dan Ayah dalam melakukan kegiatan bermain bersama ananda. Contoh, orangtua yang saat mereka kecil diperbolehkan untuk main hujan-hujanan akan memperbolehkan anaknya untuk melakukan hal yang sama.
5. Mengamati.
Bila saat anak bermain, Ibu dan Ayah ikut mengamati, maka akan cepat tanggap terhadap kebutuhan anak dan dapat memberikan dukungan saat ananda mengalami kesulitan. Misal, kalau Ayah dan Ibu melihat ada air di lantai, sebaiknya cepat dilap, atau kalau melihat ujung meja terlalu tajam dan berbahaya untuk anak, maka
Bermain Bagi AUD dan Alat Permainan yang Sesuai Bagi Usia Anak 23
lapisi ujung meja sehingga tidak lagi berbahaya, dan sebagainya.
6. Keterlibatan orang dewasa.
Keterlibatan orang dewasa atau orangtua dalam kegiatan bermain anak, hendaknya tidak menjadi pengganggu dan membuat anak tidak kreatif.
24 Bermain Bagi AUD dan Alat Permainan yang Sesuai Bagi Usia Anak
TIP MEMILIH MAINAN BAGI ANAK
1. Mainan harus bersih dan aman, sesuaikan dengan usia anak.
¡E Hindari mainan yang memiliki pinggiran tajam dan mudah pecah.
¡E Hindari mainan yang mengandung cat berbahaya.
¡E Hindari mainan dalam bentuk kecil-kecil karena dapat tertelan atau dimasukkan ke dalam lubang hidung/telinga anak.
2. Sebisa mungkin kurangi mainan yang menggunakan listrik atau baterai.
3. Sebisa mungkin anak memiliki kesempatan yang sama antara bermain di dalam ruangan dengan bermain di luar ruangan.
Bermain Bagi AUD dan Alat Permainan yang Sesuai Bagi Usia Anak 25

Sumber Bacaan
A Practical Guide to Early Childhood Curriculum. (edisi ¡E ke-8). Eliason, Claudia & Jenkins, Loa. Pearson Prentice Hall. New Jersey. (2008).
Children,play, and development. Hughes, F.P. (edisi ¡E ke-3). Boston: Allyn and Bacon. (1999).
Play and early childhood development (edisi ke-5). ¡E Johnson, J. F., Christie, J.F., Yawkey, T.D. NY: Longman. (1999).
Human Development. (edisi ke-10). Papalia, Olds & ¡E Feldman. McGraw Hill. (2007)
Bermain, mainan dan permainan. Tedjasaputra, Mayke ¡E S. Jakarta: P.T. Grasindo. (2001)
26 Bermain Bagi AUD dan Alat Permainan yang Sesuai Bagi Usia Anak
Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan Nasional
Tahun 2011

PARENTING - BERCERITA PADA ANAK




BERCERITA ITU APA SIH?
Bercerita adalah sebuah kegiatan menyampaikan sebuah kisah atau cerita kepada anak-anak. Kisah/cerita disampaikan melalui kata-kata, bisa diselingi lagu atau humor lucu. Bercerita adalah sebuah kegiatan seru! Sebab, semua anak di seluruh dunia menyukai kegiatan ini. Anak-anak lebih suka jika cerita disampaikan oleh ibu, ayah, paman, bibi bahkan nenek dan kakek mereka. Anak-anak juga merasa senang di dalam kelasnya, jika para guru / pamong juga bercerita setiap hari.
Pembawa cerita bisa satu orang atau dua orang. Seru juga kalau mendengar ibu dan ayah bercerita berdua, seperti penyanyi sedang berduet. Cerita bisa disampaikan kapan saja, yang penting pada saat anak-anak sudah siap mendengarkan cerita. Boleh siang, sore maupun malam hari sebelum tidur. Tidak ada peraturan kapan kegiatan bercerita harus dilaksanakan. Semakin sering ibu dan ayah bercerita semakin baik bagi pertumbuhan anak-anak.
Kegiatan bercerita dalam keluarga atau kelas, persis seperti kegiatan berbincang – bincang atau “ngobrol” biasa. Tapi, dalam bercerita ada beberapa tokoh yang dibicarakan. Tokoh tersebut mengalami sebuah pengalaman atau kejadian yang menarik untuk didengar oleh anak-anak. Pengalaman yang dialami oleh sang tokoh harus sesuai dengan usia anak. Kalau pengalamannya terlalu seram sebaiknya jangan diceritakan kepada anak-anak usia balita (bawah lima tahun). Nanti anak-anak malah ketakutan atau menangis.
Pengalaman si tokoh utama diceritakan dengan kata-kata dan kalimat-kalimat yang menarik di telinga anak-anak. Bahasanya jangan terlalu susah. Kalau anda bercerita seperti orang berpidato, anak-anak pasti bosan.
Jika ada anggota keluarga yang bisa memainkan suara seperti dalang, anak-anak pasti lebih suka. Tapi, kalau tidak bisa, tidak usah kecil hati! Hal terpenting dalam kegiatan ini, semua keluarga harus menikmatinya. Suasana bisa jadi tegang, sedih atau penuh dengan canda tawa.
Kegiatan ini pasti akan menjadi kenangan yang paling indah bagi anak-anak.
APA SIH GUNANYA BERCERITA?
Pasti ibu dan ayah bertanya, apa gunanya bercerita? Coba perhatikan! Jika ibu dan ayah bercerita, pasti ia akan duduk tenang dan konsentrasi penuh pada cerita yang disampaikan. Nah, duduk tenang, konsentrasi dan mendengarkan secara cermat adalah sebuah ketrampilan bagi para batita (bawah tiga tahun) dan balita (bawah lima tahun). Mendengar itu sama pentingnya dengan berbicara. Kelak ketika si kecil sudah besar, ia akan mampu mendengarkan guru di kelas dengan baik dan benar.
Selain itu, anak tanpa sadar, mempelajari kata-kata baru dari cerita cerita yang disampaikan. Mulai dari kata-kata yang mudah hingga yang sulit. Kalau sudah punya banyak simpanan kata-kata, otomatis si kecil menjadi lebih pandai berbicara ketimbang anak yang tidak pernah mendengar cerita dari keluarganya. Ibu dan ayah pasti akan bangga sekali mendengar “ocehan” si kecil dengan kata kata barunya.
Mendengarkan cerita juga memberikan rangsangan kepada anak untuk memperoleh cerita baru setiap hari. Si kecil akan semangat belajar membaca, karena anak menyadari akan mendapatkan banyak cerita baru jika ia sudah bisa membaca. Pada saat anak belajar membaca, ibu dan ayah harus lebih giat lagi bercerita, supaya anak lebih semangat lagi belajar membaca. Begitu anak sudah bisa membaca huruf dan merangkai kata, maka ia akan rajin membaca cerita dengan sendirinya. Kalau anak sudah rajin membaca, maka tidak akan sulit bagi dirinya untuk membaca buku pelajaran di sekolah jika sudah besar. Karena otaknya sudah terbiasa meramu kata dan kalimat yang mengandung sebuah arti atau makna.
Mendengar, berbicara dan membaca adalah tiga ketrampilan penting untuk batita dan balita. Dengan demikian anak sudah memiliki modal dasar yang baik untuk menghadapi jenjang sekolah yang lebih tinggi.
Penelitian menunjukkan anak yang sering mendengar cerita pada masa balita akan sukses menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Karena, anak menjadi terbiasa mendengar kalimat-kalimat panjang dan mencernanya menjadi sebuah arti.
SIAPAKAH ANAK IBU - AYAH?
Sebelum mulai bercerita, ibu dan ayah harus mengenal dulu, siapakah anakku? Hal ini penting sekali, supaya cerita yang akan disampaikan cocok dengan umur, jenis kelamin dan sifat si kecil. Kalau memaksakan bercerita sebuah cerita yang hanya disukai ibu dan ayah, maka si kecil tidak akan pernah suka mendengar cerita orangtuanya. Akibatnya, anak tidak akan pernah tertarik dengan kegiatan ini. Ibu dan ayah malah akan kehilangan kesempatan untuk mengajarkan ketrampilan mendengar, berbicara dan membaca. Pasti ibu dan ayah tidak mau itu terjadi bukan?
Anak batita (bawah tiga tahun) dan balita (bawah lima tahun) biasanya suka dengan cerita yang berhubungan dengan dunia binatang. Jika nanti sudah berusia 6 tahun ke atas, maka mereka akan mulai suka cerita yang berhubungan dengan manusia.
Anak laki-laki biasanya suka dengan cerita yang energik. Pilih binatang yang gagah sebagai tokoh utamanya. Boleh juga memilih tokoh utamanya adalah mobil, traktor atau bis. Karena, anak laki laki suka dengan mainan tersebut. Kalau anak perempuan, biasanya lebih suka cerita yang sedikit lembut. Pilih binatang yang sifatnya lembut, berbulu, berwarna atau binatang yang pandai bernyanyi.
Kalau anak ibu dan ayah adalah batita maka cerita harus pendek dan mudah dicerna. Anak batita dan balita senang dengan kata -kata yang diulang-ulang. Mereka juga senang mendengar bunyi-bunyian yang lucu di dengar telinga. Seperti “Hip! Hip! Hop! Hop!” atau “Bbbrrmmm… bbbrrrmmm…” atau “Ciut…ciut…cit..cit…”.
Untuk batita dan balita, sebaiknya kalimatnya jangan terlalu panjang. Kalimat panjang sangat membingungkan bagi si kecil. Hal ini karena pengetahuan kata kata mereka yang belum banyak. Selain itu, batita dan balita masih sulit menghapal kata dan kalimat, apalagi mencernanya.
Batita dan balita juga senang dengan mendengarkan cerita yang penuh keajaiban. Misalnya, mobil bisa terbang, atau beruang punya bulu berwarna merah jambu. Ibu dan ayah boleh memasukan hal-hal yang penuh khayalan, karena mereka masih suka berkhayal.
Menghitung dan mengenal warna juga sangat disukai oleh batita dan balita.
BAGAIMANA MEMILIH CERITA UNTUK SI KECIL?
Ibu dan ayah harus pandai memilih cerita untuk si kecil. Apa lagi bagi batita (bawah tiga tahun) dan balita (bawah lima tahun), karena masih belum sepandai anak anak usia di atas balita. Kalau ibu dan ayah memilih cerita yang terlalu sulit, anak akan jenuh. Nanti ibu dan ayah akan mengira anak tidak suka mendengarkan cerita. Padahal mereka suka mendengarkan cerita, namun yang sesuai dengan usianya.
Anak batita dan balita belum mampu mendengarkan cerita yang terlalu panjang dan dengan jalan cerita yang rumit. Pilih cerita sederhana. Coba ibu dan ayah membaca keras buku tersebut. Coba cermati, berapa lama ibu dan ayah membaca. Kalau lebih dari 5 menit, sebaiknya buku itu tidak di beli. Simpan saja buku cerita tersebut dan ceritakan kepada anak jika mereka sudah berusia di atas 5 tahun.
Anak batita hanya bisa mendengarkan cerita di bawah 3 menit. Sedangkan, balita mampu mendengarkan cerita di bawah 5 menit. Lebih panjang dari waktu tersebut, maka anak sudah sulit untuk konsentrasi. Anak akan mulai mengambil mainan, menangis atau lebih suka menonton televisi. Tapi, kalau anak meminta cerita dilanjutkan, silahkan lanjutkan. Berarti, kepandaian anak mendengarkan sudah lebih baik.
Pilih cerita dengan tokoh maksimum 2 – 3 tokoh saja. Lebih banyak dari jumlah tersebut, maka si kecil akan merasa bingung karena mereka belum dapat mengingat dengan baik. Batita dan balita jika sudah bingung biasanya mengalihkan perhatiannya pada hal lain yang lebih menyenangkan.
Semakin sering anak mendengarkan cerita, mereka akan lebih pandai mendengar dan lebih cepat menghapal tokoh. Oleh sebab itu, jangan heran jika anak bertahan lebih dari 5 menit mendengarkan cerita dan mampu mengingat lebih dari 3 tokoh dalam cerita. Berarti ibu dan ayah sudah sukses bercerita dengan baik bagi si kecil.
BAGAIMANA MEMULAI BERCERITA?
Jangan paksakan si kecil untuk mendengarkan cerita jika ia sedang asyik bermain. Ibu dan ayah tidak boleh memaksa, namun boleh untuk membujuk.
Tunggu sampai si kecil mencari kegiatan yang baru, maka ibu dan ayah dapat menawarkan kepadanya untuk bercerita.
Batita (bawah tiga tahun) dan balita (bawah lima tahun) senang mendengarkan cerita sambil di pangku dan di dekap dalam pelukan. Lakukanlah hal ini, karena anak biasanya masih bingung dan takut dengan setiap kegiatan baru. Mendengarkan cerita sambil menikmati sentuhan kasih ibu atau ayah, adalah sebuah kombinasi yang sangat sempurna. Selain itu, dengan dipangku anak akan lebih tenang dan mudah berkonsentrasi.
Untuk beberapa batita dan balita harus dibantu untuk mulai berkonsentrasi. Caranya? Mulailah bernyanyi lagu-lagu favoritnya. Umumnya anak akan ikut bernyanyi. Nah, kalau anak sudah santai dan ikut bernyanyi, mulailah bercerita. Lembutkan suara ibu dan ayah, supaya si kecil terpikat
mendengar cerita. Tunjukkan gambar yang menarik jika ibu dan ayah punya buku bergambar, atau tunjukan sebuah boneka untuk membantu si kecil agar dapat membayangkan ceritanya.
Kalau si kecil sudah mulai “rewel” atau tidak tertarik dengan cerita ibu dan ayah boleh bernyanyi kembali, supaya si kecil tidak jenuh. Selama bernyanyi ibu dan ayah boleh bertepuk tangan atau melakukan gerakan-gerakan yang menarik minat si kecil. Setelah itu baru melanjutkan cerita.
Bagi anak yang belum pernah mendengarkan cerita, kadang memang sulit untuk tenang mendengarkan cerita. Ibu dan ayah harus sabar dan tidak boleh putus asa melewati proses ini. Begitu si kecil menemukan kenikmatan mendengarkan cerita, ibu dan ayah akan bercerita tanpa gangguan yang berarti.
Sebaiknya, matikan televisi, DVD atau VCD jika sedang bercerita supaya si kecil bisa konsentrasi pada ceritanya. Sebab, tayangan di televisi, DVD, atau VCD tetap menarik bagi batita dan balita. Tayangan tersebut memiliki suara, musik, warna dan gerakan -gerakan yang sangat menarik minat batita dan balita.
PESAN DALAM CERITA
Dalam setiap cerita pasti ada pesan yang ingin disampaikan untuk anak. Pesan cerita bagi anak usia batita (bawah tiga tahun) dan balita (bawah lima tahun) harus ringan dan mudah diingat mereka. Pesan yang berat seperti, “Harus jadi anak yang saleh” atau “Harus hormat pada ayah ibu” atau “Harus rajin belajar” adalah pesan-pesan yang sulit dimengerti oleh balita apalagi batita. Konsep mengenai hal tersebut belum mereka pahami.
Sebaiknya, pesan cerita untuk batita dan balita harus sesuai dengan kegiatan mereka sehari-hari. Kaitkan kegiatan mereka sehari-hari dalam cerita anda. Batita dan balita memiliki rutinitas kehidupan yang masih sederhana. Oleh sebab itu, pesan untuk mereka juga sebaiknya sesuai dengan kegiatan mereka sehari hari, misalnya “Kalau mandi harus bersih dan pakai sabun!” atau “Waah…kalau makan wortel badan akan sehat dan kuat!” atau sesederhana “Kamu anak yang paling ibu sayang”.
Kadang ibu dan ayah tidak menemukan pesan apapun dalam cerita untuk batita dan balita. Hal tersebut jangan membuat bingung. Karena tidak setiap cerita memiliki pesan khusus. Namun, dalam cerita tersebut sebaiknya ada kegiatan menghitung, mengenalkan warna, melakukan gerakan-gerakan untuk tubuh atau bernyanyi. Bagi anak batita dan balita hal ini juga termasuk pesan yang harus mereka ingat.
Jangan paksakan memasukan pesan yang berat, apalagi lebih satu pesan. Jika ibu dan ayah terlalu sering memasukkan pesan dalam cerita, batita dan balita Anda akan melihat kegiatan bercerita sebagai ajang memberi nasihat semata. Padahal bercerita harus meninggalkan kesan yang menyenangkan bagi si kecil.
Ada beberapa orangtua yang suka “menyindir” si kecil melalui cerita ceritanya. Jangan lakukan hal ini! Karena, walau masih usia batita dan balita, mereka sudah menyadari kalau disindir karena perilakunya yang kurang berkenan. Menyindir perilaku melalui cerita akan membunuh selera mereka mendengarkan cerita.
KALAU KEHABISAN BUKU CERITA?
Ada kalanya ibu dan ayah kehabisan buku bacaan untuk dicerita kepada si kecil. Atau, ibu dan ayah lupa membeli buku baru buat si kecil, sementara itu si kecil menagih untuk diceritakan cerita baru setiap hari. Sementara si kecil juga bisa bosan dengan cerita dari buku cerita. Apa yang harus ibu dan ayah lakukan? Ibu dan ayah membuat cerita sendiri! Pasti bisa.
Jika ibu dan ayah perhatikan dalam setiap kisah atau cerita bisa di ringkas menjadi 4 kalimat saja. Bahkan novel yang tebal sekalipun, dapat di ceritakan kembali hanya dalam 4 kalimat saja. Ini adalah rumus ajaib untuk bercerita.
1.     Membuat pembuka cerita. Dalam setiap cerita selalu ada pembuka cerita. Biasanya ditandai dengan kalimat, “Pada suatu hari….” atau “Pada jaman dahulu kala…” atau “Pada suatu pagi yang indah…” Jika menemui kalimat semacam ini, berarti sedang membaca “pembuka cerita”. Ibu dan ayah tentu bisa membuat pembuka cerita. Dalam pembuka cerita, ceritakan dimana cerita itu terjadi. Bagaimana suasana dan kondisi tempat tersebut. Cukup menggunakan satu sampai dua kalimat sebagai pembuka cerita.
2.     Membuat permasalahan cerita. Setelah memperkenalkan tokoh dalam cerita, mulailah membuat permasalahan cerita. Apa masalah yang terjadi? Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Apa penyebabnya? Bagaimana tokoh dalam cerita bereaksi?
3.     Membuat penyelesaian masalah. Tokoh dalam cerita harus dapat menyelesaikan masalah. Penyelesaian masalah sebaiknya dilakukan dengan cara yang cerdik. Dalam bagian ini, ajak si kecil untuk ikut pula mencari jalan untuk menyelesaikan permasalahan. Masukan dari si kecil dapat pula dijadikan jalan keluar dari permasalahan cerita.
4.     Membuat penutupan cerita. Langkah terakhir adalah membuat penutupan cerita. Umumnya, penutupan cerita disampaikan dengan suara riang, gembira dan berbahagia.
Jangan buat cerita menjadi terlalu panjang dan rumit. Tetap hitung waktu untuk bercerita. Sebaiknya tidak lebih dari lima menit.
Jika ibu dan ayah tidak ada ide yang lain, bisa menggunakan cerita yang sama namun diganti tokoh-tokohnya dengan nama dan jenis binatang yang berbeda.
Ibu dan ayah juga dapat membuat sebuah cerita berdasarkan kisah kehidupan sehari hari yang diganti menjadi cerita untuk anak anak. Misalnya, tentang ibu pergi ke pasar dan berjumpa dengan tetangga sebelah. Dalam kisah ini, ibu dan ayah bisa mengajarkan pentingnya saling menyapa, dan beramah tamah dengan tetangga. Atau, kisah ayah pergi bekerja dan
kendaraannya rusak di jalan. Kisah ini bisa mengajarkan untuk tidak berputus asa walaupun sedang menghadapi kesulitan.
Berita di koran juga bisa menjadi ide untuk membuat cerita bagi si kecil. Namun, sederhanakan situasi cerita, mengikuti pola berpikir batita dan balita, agar cerita tetap menyenangkan dan mudah diikuti.


SI KECIL SUKA MENGULANG CERITA
Ini terjadi pada banyak batita (bawah tiga tahun) dan balita (bawah lima tahun). Dalam sebuah kurun waktu, mereka akan senang sekali dengan cerita yang sama berulang – ulang. Banyak orang tua yang menjadi bosan menceritakan hal yang sama setiap hari.
Jika ini terjadi pada si kecil, jangan heran! Mengapa hal ini bisa terjadi? Batita dan balita senang sekali mampu memahami sebuah cerita dari awal hingga akhir. Mereka senang dapat menebak akhir cerita, dan menemukan hal yang lucu, menegangkan dan seru pada beberapa bagian dari cerita tersebut. Itulah sebabnya mereka senang sekali mengulang-ulang cerita yang sama. Bagi mereka ini adalah sebuah prestasi tersendiri.
Bagaimana menghadapi hal ini? Silakan bercerita hal yang sama berkali-kali. Namun, sesekali belokkan cerita sedikit demi sedikit. Bagaimana kalau si kecil protes? Ibu dan ayah bisa kembali pada alur cerita asli, namun boleh menambahkan jumlah tokohnya. Hal ini harus dilakukan untuk merangsang si kecil agar siap mendengarkan cerita baru.
SI KECIL YANG INGIN BERCERITA?
Si kecil adakalanya tidak ingin mendengarkan cerita ibu dan ayah. Mereka ingin gantian bercerita pada orang tuanya. Mengapa ini bisa terjadi? Sebab anak telah penuh daya ingatnya dengan berbagai cerita. Bagaikan gelas yang sudah penuh, si kecil sudah “luber” dengan ide cerita. Anak ingin berbagi cerita dengan orangtuanya.
Biarkan anak bercerita dan orang tua menjadi pendengar yang baik. Cerita yang disampaikan anak, umumnya berantakan. Kata, kalimat dan jalan ceritanya tidak runut. Tidak apa-apa. Anak sedang belajar mengutarakan pemikiran dengan baik. Jangan kritik cerita mereka. Sebaliknya, ibu dan ayah harus memuji kemampuan mereka. Supaya mereka lebih termotivasi lagi untuk berbicara, bertutur dan menyampaikan ide di kepala mereka.
Sesekali perbaiki perbendaharaan kata mereka, atau susunan ceritanya. Namun ibu dan ayah tetap harus bereaksi positif terhadap cerita anak. Rangsang anak untuk memberi nama pada setiap tokoh yang digunakan. Tugas orang tua mengingatkan si kecil tentang nama dan jalan cerita.
Rangsang si kecil untuk terus mampu mengembangkan jalan cerita. Tanyakan permasalahan ceritanya, dan jangan lupa menanyakan perasaan si tokoh dalam cerita tersebut.
PESAN UNTUK IBU DAN AYAH
Bercerita adalah sebuah proses yang panjang. Dalam prosesnya selalu ada hambatan yang bisa membuat ibu dan ayah putus asa untuk melakukan kegiatan ini. Namun, harus diingat bahwa dalam proses bercerita bagi batita (bawah tiga tahun) dan balita (bawah lima tahun) yang ingin dicapai adalah ketrampilan mendengar, berbicara dan membaca. Jadi, jika si kecil belum dapat mencerna isi cerita dengan baik atau tidak ingat sama sekali cerita yang sudah diberikan, sebaiknya jangan putus asa!
Kegiatan ini adalah sebuah kegiatan yang bersifat seru, hangat dan penuh kasih sayang. Jangan melakukan kegiatan bercerita seperti belajar dan membuat pekerjaan rumah.
Kadang ibu dan ayah sukses bercerita bagi si kecil, kadang tidak berhasil sama sekali. Jika gagal, jangan pernah berpikir bahwa ibu dan ayah adalah orang tua yang tidak baik. Gagal bercerita itu terjadi pula pada pendongeng yang sudah mahir. Suasana hati, kesehatan tubuh, kejenuhan si kecil kadang menjadi kendala ibu dan ayah dalam bercerita. Jangan putus asa, jalan terus!
Terakhir, ibu dan ayah harus menjalankan kegiatan ini dengan hati yang ikhlas karena prosesnya tidak mudah.Ikhlaskan hati, jika si kecil tidak memedulikan cerita. Hal ini bisa terjadi karena si kecil sedang bosan dan jenuh, namun jangan pernah berhenti bercerita.
Hasil jerih payah bercerita, tidak dapat dilihat dalam seketika. Nanti jika si kecil sudah dewasa baru akan terlihat hasilnya. Oleh sebab itu bersabarlah dalam bercerita.
Kegiatan ini sebaiknya tidak saja berhenti pada masa batita dan balita, lakukanlah walau anak sudah menduduki jenjang Sekolah Dasar. Karena proses bercerita adalah proses komunikasi yang baik antara orang tua dan anak.
Selamat mencoba!

Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan Nasional
Tahun 2011